FKDM Kota Sukabumi

Perbincangan dan Obrolan Seputar Kota Sukabumi Setiap Hari, Pukul 19.30 - 23.00 WIB

Rabu, 19 Februari 2020



Paguron silat "Tatali Wargi" berdiri pada tanggal 20 Agustus 2008 diprakarsai oleh Hendra, Deden, Abah Raid, dan Abah Jejen. Penamaan "Tatali Wargi" dimaksudkan untuk merekatkan rasa kekeluargaan dan persaudaraan.

Kiprah paguron silat yang berdomisili di Cikundul Hilir ini selama 12 tahun memokuskan pada pelatihan pencak silat. Perkembangan selanjutnya peserta pelatihan juga diikutsertakan dalam bidang seni lainnya yaitu gending.

Paguron silat "Tatali Wargi" telah memiliki waditra atau alat tabuh seni sebagai sarana pendukung kegiatan. Selain berlatih di lokasi paguron, pelatihan gending juga dilakukan  di Gedung Seni Aher, Jalan Lingkar Selatan.

Beberapa pasanggiri dan festival telah diikuti oleh peserta pencak silat paguron dari tingkat kota sampai provinsi. Dari beberapa perlombaan yang pernah diikuti, akhir-akhir ini dua orang peserta dari paguron silat "Tatali Wargi" berhasil meraih prestasi.

Peserta yang berlatih pada bidang seni gending diakui oleh Kang Deden baru menunjukkan kemampuannya saat ada perayaan hiburan di masyarakat. Saat acara hajatan, mereka biasa tampil. Bukan sekadar memainkan waditra, juga telah biasa memerankan adegan-adegan lengser di acara pernikahan dalam upacara adat penyambutan pengantin lelaki.

Hambatan selama berkiprah di dunia seni

Hambatan sekaligus menjadi tantangan yang dihadapi oleh paguron silat "Tatali Wargi" selama satu dekade ini salah satunya adalah tingkat kesadaran masyarakat terhadap seni bela diri Sunda seperti pencak silat masih belum maksimal. Ada satu kejadian, saat seorang anak mendapatkan sertifikat atau piagam prestasi pun, orangtua anak tersebut masih bertanya, untuk apa sertifikat ini?

Peluang yang ada di masyarakat -khususnya- di Kelurahan Cikundul, menurut Kang Deden, terletak dari seberapa besar sinergitas antara paguron, pemerintah, dan masyarakat dalam memberikan perhatian pada seni pencak silat.

Perhatian pemerintah kepada paguron-paguron yang ada di Kota Sukabumi dalam bentuk penghargaan dan pengakuan kepada para pelaku seni telah dirasakan langsung. Sebagai contoh, paguron silat "Tatali Wargi" disediakan waktu dan tempat oleh pemerintah kota menampilkan pencak silat di Obyek Wisata Pemandian Air Panas, Cikundul.

Kang Deden berharap, selain beberapa hal yang telah disebutkan tadi, perhatian lebih dari pemerintah memang harus lebih ditingkatkan lagi.

Gerakan "wiragamasa" dan "kasukabumian"

Dalam pandangan Kang Deden, IPSI Kota Sukabumi sejak tahun 2016 telah mengembangkan gerakan silat "Wiragamasa". Gerakan ini merupakan gerakan tepak dua, diciptakan oleh beberapa paguron silat di Kota Sukabumi.

Setiap sekolah dari mulai tingkat dasar sampat lanjutan atas direkomendasikan untuk melatih para siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pencak silat gerakan "Wiragamasa".

Sementara itu, gerakan silat "Kasukabumian" merupakan gerak dalam pencak silat yang diciptakan dan dikembangkan oleh paguron tertentu, yaitu paguron Kasukabumian, Selabintana dan paguron silat Maung Lugay.

Kehadiran gerakan-gerakan dalam pencak silat ini tidak tertutup, artinya paguron mana saja dapat menggunakannya baik gerakan "Wiragamasa" atau "Kasukabumian".

Gerakan-gerakan utama dalam "Wiragamasa" disebutkan oleh Kang Deden, antara lain: gerakan salam prasetya terdiri dari sembilan gerakan, dilanjutkan pada gerakan tunjreng atau gerakan ponggawa, gerakan waled terdiri dari sepuluh gerakan, dilanjutkan pada gerakan tepak dua, tepak hiji, tepak tilu, selanjutnya gerakan bungbang, dan dipungkas dengan gerakan padungdung.

Diversifikasi pencak silat

Selain berkiprah melatih silat di paguron "Tatali Wargi", Kang Deden juga telah memelopori lahirnya paguyuban pencak silat di Kecamatan Lembursitu. Paguyuban ini terdiri dari para pelatih pencak silat dari berbagai paguron di Lembursitu.

Fasilitasi dari pemerintah terhadap kegiatan-kegiatan pengenalan dan sosialisasi pencak silat harus diprioritaskan. Salah satu tugas penting setiap paguron silat yaitu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai seni pencak silat, sebagai bentuk kiprah nyata paguron dan para pelaku seni dalam melestarikan budaya Sunda.


Dialog dengan Kang Deden

0 Tanggapan